Naaaak.

Ghibthoh. Nak, kelak kalau kau sampai pada satu titik, antara terus berjalan atau beralih haluan, camkan satu hal; Bahwa apa yg tengah kau arungi adalah lautan terbaik. Lebih manis dari madu, lebih putih dari susu, lebih nikmat dari air dingin di tengah keringnya padang pasir. Bahwa, apa yang kau lihat dari sahabatmu itu, adalah bentuk keutamaan lain pula yang diberikan Allah untuknya. dasari pandangan itu … Lanjutkan membaca Naaaak.

Menolak nganggur

Sudah lama sekali kami tak berkunjung ke kanal-kanal telegram milik teman teman kami. Setelah kami m3mutuskan untuk tidak banyak membuka app telegram kecuali hanya untuk membalas pesan atau berbagi tulisan. Grup yang kami ikutipun sudah kami kurangi secara signifikan. Biasanya, sehari saja tidak dibuka, sudah ratusan notifikasi yang menunggu dibuka. Dan tentu saja, sangat sangat membuat tidak nyaman. Berkunjumg membaca tulisan orang orang yang kita … Lanjutkan membaca Menolak nganggur

Ketakutan yang menghantui.

Dalam perjalanan usai menghadiri salah satu walimah abang kelas, sekaligus teman kost di jakarta dulu, kami berbincang dalam dengan salah seorang teman yang dulu, ketika masih di pesantren , memiliki hubungan cukup dekat dengan kami. Namun setelah semua kami sibuk dengan kegiatan masing masing, intensitas bincang kami jadi sangat amat berkurang. Alhamdulillah, kami diberi kesempatan lagi untuk berbincang dalam (deep talk) dengan teman ini. Selama … Lanjutkan membaca Ketakutan yang menghantui.

إن العين لتدمع وإن القلب ليشتاق وإنا إلى الله راغبون

Sungguh mata ini menangis, hati ini merindu, dan hanya kepada allah lah tempat kami berharap. Pagi ini, sebelum kami berkemas menuju ma’had tempat kami berbagi sedikit ilmu kami, kami membuka galeri HP dengan niat untuk mencari sertifikat vaksin yang sduah kami unduh beberapa hari lalu di situs pedulilindungi. Tujuannya, agar nanti kami mudah untuk dapat menunjukkannya kepada petugas di titik penyekatan, maklumlah, masih masa PPKM. … Lanjutkan membaca إن العين لتدمع وإن القلب ليشتاق وإنا إلى الله راغبون

وما توفيقي إلا بالله

Setelah semua peluh kita, setelah semua lelah kita. Adalah sebuah ujian untuk para pejuang, agar dapat mengakui segala juangnya murni merupakan taufik dari Allah. Maka, orang orang yang lulus pada ujian tersebut, hanyalah orang orang yang mengerti kekuasaan Allah atas makhluknya. Hari ini, aku gembira saja. Alhamdulillah. Ada beberapa kabar gembira yang sampai ke telingaku. Dan semuanya, adalah final dari sekian juang yang telah dilalui. … Lanjutkan membaca وما توفيقي إلا بالله

Kelak

1 dzulhijjah 21.26 am Kelak, yang paling kau rindukan adalah ocehan ibu. Yang paling kau rindukan adalah teguran ayah. Jika belum tuntas rasanya kau menjadi anak, jangan merindu sosok yang tak jelas. Untuk aku dan kelak anakku. Jangan sekalipun kau bermasam muka, bergerak kasar, melangkah angkuh, melenggang kesal, berdehem sesal. Jangan. Sunggu pada kerut kesal wajahmu ada hati yang meringis. Tak akan aku tuliskan lagi … Lanjutkan membaca Kelak

Apa setelah itu?

Saya baru tahu, setelah salah seorang teman mengabarkan bahwa imunitas seseorang setelah divaksin akan sedikit melemah pada periode 7 hari pertama. Dan sangat dianjurkan untuk tetap stay at home sebisa mungkin. Kalau ada teman teman yang bertanya, apakah ada efek samping setlah kami divaksin kemarin? Maka, jawabannya ada. Seperti hari ini, persendian kami sedikit pegal, suhu badan sedikit naik. Alhamdulillah ala kulli haal. Salah satu … Lanjutkan membaca Apa setelah itu?

Dipertemukan.

Sudah sejak lama aku merindukan dan mengharap pertemuan, akhirnya Allah berikan kesempatan walau hanya sekejap. Sedikit waktu memang untuk mengenal lebih dalam, biarlah nanti, ketika kami sudah berjalan bersama, Allah akan kuatkan. Bersama, menghidupkan pelita dakwah di bumi hangtuah. Semua berawal dari urgensi pengambilan vaksin untuk kelancaran pemberangkatan (yang qaddarullah sampai hari ini belum lagi ada titik terang). Saban hari, di satu pekan terakhir ini, … Lanjutkan membaca Dipertemukan.

Sudah lama tidak menulis puisi, kita coba lagi disini.

Untuk kawanku : Kita, hanya dipisah sapa. Kita, hanya dibatas media. lisan kelu, jemari membatu. Sama sekali, bukan karena ragu, takut tak terbalas. Ada takut besar yang lebih ganas. Kau, ketika jemari kian menggetikKetika hati kian memekik. Adakah salam sapa akan berbuah manis? Sayangnya, tidak. Semakin nekat, semakin dekat. Nekat untuk dekat pada jurang maksiat. Kau, mengapa tak mengunci hati, agar tak pergi. Atau, bahkan … Lanjutkan membaca Sudah lama tidak menulis puisi, kita coba lagi disini.

TAK HARUS DIAPAKAN

Apa? Sering sekali kita apa kali terhadap apa yang mestinya ndak mesti kita apakan. Namun, hati kita yang sering kali merasa apa gitu, membuat apa apa yang harusnya ndak diapakan malah kita apa-apakan. Dalih kita banyak, yang paling klise biasanya adalah ucapan “apakan sikit, kalo ndak diapakan, apapulak nanti dia tu. apakali dia tu”. Yeah, sangat sangat klise. Namun, pernahkah kawan pakai apa kawan tu … Lanjutkan membaca TAK HARUS DIAPAKAN